1.425 Napi Kabur Dari Selnya Pasca Gempa

1.425 Napi Kabur Dari Selnya Pasca Gempa

Kabar5.Com, Sulawesi Tengah | Sebanyak 1.425 Narapidana (napi) kabur dari selnya pasca gempa di Sulawesi Tengah. Mereka melarikan diri karena panik saat gempa terjadi, 3 Oktober 2018.

Para napi dan tahanan yang kabur itu berasal dari Lapas Palu, Rutan Palu, Rutan Donggala, LPP (Lembaga Pemasyarakatan Perempuan) Palu, dan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) Palu. Sebagian besar dari napi dan tahanan adalah mereka yang dihukum atau terkait perkara tindak pidana korupsi, narkoba, serta kriminal umum.

 

“Isi total Sulteng 3.320 (orang), existing 1.795, sisanya yang nggak ada di tempat 1.425. Itu berdasarkan informasi pagi ini,” ucap Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas) Sri Puguh Budi Utami di kantornya, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, pada Senin, 1 Oktober 2018 lalu.

 

Kaburnya para napi ini menjadi dilema bagi pemerintah. Pemerintah harus menjamin keselamatan para napi dari bencana, tapi tak bisa juga membiarkan napi terus berkeliaran di luar lapas.

 

Akhirnya pemerintah terpaksa membiarkan para napi di Lapas Palu dan Rutan Donggala sementara waktu berada di luar sel karena musibah gempa di Sulteng. Selain keselamatan, alasannya karena kondisi lapas/rutan masih rusak.

 

“Di Donggala yang parah. Kan waktu itu dibakar sama mereka,” ujar Menkum HAM Yasonna Laoly di Istana Kepresidenan, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, pada Selasa, 2 Oktober 2018 kemarin.

 

Yasonna menggambarkan situasi Rutan Donggala panik saat terjadi gempa berkekuatan 7,4 SR. Dengan alasan kemanusiaan, masih ada napi yang belum dikembalikan ke sel.

 

“Kan kondisinya parah banget, roboh. Yang di Donggala karena mereka dikunci para napinya marah karena takut gempa susulan terus-menerus, akhirnya dilepas. Banyak juga yang melapor kembali, tapi mau bagaimana lapasnya hancur begitu. Makanan juga harus kita sediakan. Jadi kondisinya sangat hectic, panik, mereka khawatir pada keluarganya. Jadi sementara karena alasan kemanusiaan dulu, lapasnya hancur, mau gimana? Tembok roboh, saat gempa susulan mereka khawatir tertimpa reruntuhan,” papar Yasonna.

 

Kini, tugas berat dipikul pemerintah. Mereka harus mengejar napi yang masih kabur. Catatan dari kepolisan, masih ada 1.102 narapidana dan tahanan belum kembali ke lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) di Sulawesi Tengah.

 

“Kemarin ada kejadian gempa itu prosedur, itu tidak boleh dikunci begitu saja, nanti meninggal semua di situ gawat. Sampai sekarang kita belum mendapatkan laporan. Yang penting kita membantu dari lapas, kita upayakan mereka bisa dicari,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, di Kominfo, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

 

Rincian jumlah narapidana dan tahanan yang belum kembali berdasarkan data Polri per Selasa siang yakni di Lapas Donggala napi yang kabur sebanyak 342 orang, tahanan yang kembali baru 260 dan yang belum kembali 82 orang. Di Tahanan Polres Donggala lengkap ada 35 orang.

 

Di Lapas Palu jumlah napi kabur 465 orang, tahanan kembali 28 orang, belum kembali 437 orang. Kemudian di Lapas Petobo Palu napi yang kabur 674 orang, tahanan kembali 82, belum kembali 582 orang. Sementara itu, di Rutan Polda Sulteng 117 orang lengkap dan aman.

 

Data yang didapat Polri lainnya yakni Rutan Polres Palu seluruhnya di titip di Mapolda Sulteng. Rutan Polres Sigi 26 orang, 1 orang melarikan diri dan belum kembali.

 

Setyo mengatakan nantinya Polri akan berkoordinasi dengan Ditjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM terkait data tahanan dan narapidana yang kabur dan belum kembali. Dia berharap para tahanan yang kabur belum pergi terlalu jauh mengingat tidak ada akses jalan.

 

“Yang penting kita membantu dari lapas, kita upayakan mereka bisa dicari, saya berharap mereka tidak keluar dari palu, karena susah juga untuk keluar dari sana, kapal nggak ada, pesawat nggak ada susah,” ujar Setyo.

 

Dirjenpas Sri Puguh Budi Utami menyebut pihaknya telah membentuk tim satgas untuk menata kondisi pascagempa. Selain itu, memastikan posisi dan keberadaan dari napi dan tahanan yang kabur.

 

“Kami sudah membentuk Satgas gabungan terdiri dari pegawai Ditjen Pemasyarakatan dan Kanwil. Tugasnya melakukan penataan pascagempa, melakukan pendataan dan pencarian terhadap napi yang keluar Lapas dan Rutan bekerjasama dengan pihak terkait,” kata Sri. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.