Bank Mandiri Klaim Kasus SNP Finance Tak Ganggu Kredit

Bank Mandiri Klaim Kasus SNP Finance Tak Ganggu Kredit

Kabar5.Com, Jakarta | PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengklaim kasus kredit bermasalah yang dilakukan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) tak berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan, 18 Oktober 2018.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto mengaku tetap yakin perseroan mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang baik, meskipun ikut terseret dampak dari kasus gagal bayar dari SNP Finance, perusahaan yang sudah menjadi debitur selama 20 tahun terakhir.

 

Sebagai informasi, total kredit bermasalah SNP Finance di Bank Mandiri tercatat mencapai Rp1,2 triliun. Dalam hal ini, Bank Mandiri mengaku sudah melakukan pencadangan dana kerugian secara penuh.

 

Di sisi lain, perseroan juga mengikuti proses pengajuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utan (PKPU) yang telah berjalan sejak 4 Mei lalu, dan akan melakukan voting pada akhir Oktober.

 

“Kami sudah memberi cadangan yang cukup. Kalaupun PKPU nanti tidak mencapai kesepakatan dan harus melakukan likuidasi, kami tentu berupaya mendapatkan recovery dengan menjual jaminan, termasuk garansi personal,” kata Sulaiman di Plaza Mandiri, pada Rabu, 17 Oktober 2018 kemarin.

 

Meskipun pinjaman macet Bank Mandiri kepada SNP Finance dipatok cukup tinggi, namun perseroan ini mengaku tidak akan mengetatkan sisi keuangannya pada multifinance atau perusahaan pembiayaan.

 

“Bukan berarti karena adanya SNP kita lebih mengetatkan (pemberian pinjaman) pada multifinance, tapi semua itu sudah kita perhitungkan,” imbuh Sulaiman.

 

Sampai akhir 2018, perseroan tetap menargetkan proyeksi rasio kredit bermasalah (non perfoarming loan/NPL) di bawah level 3 persen. Pada akhir September 2018, level NPL sudah berhasil dipangkas sebesar 74 basispoin menjadi kisaran 3,01 persen.

 

Secara akumulasi, kasus kredit bermasalah SNP Finance setidaknya merugikan 14 bank sebagai kreditur dengan total tagihan mencapai Rp4,07 triliun dan jaminan Rp2,2 triliun.

 

Tak hanya itu, terdapat pula 336 pemegang surat utang jangka menengah (Medium Term Notes/MTN) yang berpotensi kehilangan dana total senilai Rp1,85 triliun. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.