Facebook Katakan Peretas Akses 29 Juta Data Pribadi Pengguna

Facebook Katakan Peretas Akses 29 Juta Data Pribadi Pengguna

Kabar5.Com, Amerika Serikat | Facebook mengatakan bahwa peretas mengakses data pribadi 29 juta penggunanya. Sebelumnya, perusahaan raksasa media sosial itu menyebut bahwa 50 juta akun penggunanya terkena dampak dalam serangan siber pada akhir bulan lalu. Peretas diketahui berupaya membobol tiga peranti lunak demi mengambil alih ‘token’ yang berfungsi laiknya kunci digital untuk mengakses akun pengguna, 13 Oktober 2018.

“Kami kini mengetahui bahwa jumlah pengguna yang terdampak lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya,” kata Guy Rosen, wakil kepala produk manajemen Facebook pada Jumat, 12 Oktober 2018 kemarin.

 

Ia menjelaskan para peretas yang identitasnya masih belum diketahui itu mengakses nama, nomor telepon, dan alamat email dari 15 juta pengguna Facebook.

 

Sementara, serangan itu berpotensi berdampak lebih buruk untuk 14 juta pengguna lainnya.

 

Para peretas disebut mengakses data dan informasi tambahan seperti jenis kelamin, ahama, kampung halaman, tempat dan tanggal lahir, serta tempat-tempat yang mereka pernah datangi lewat fitur “check in”.

 

Rosen juga menyebut tak ada data yang diakses terhadap satu juta akun pengguna yang akses tokennya dicuri.

 

Serangan itu diklaim tidak berdampak terhadap media sosial milik Facebook yang lain seperti Messenger, Messenger Kids, Instagram, WhatsApp, Oculus, Workplace, Pages, juga sistem pembayaran serta aplikasi pihak ketiga.

 

Facebook mengatakan bahwa pihaknya mengendus ada peretasan pada 25 September dan kemudian menyetopnya dua hari kemudian.

 

Peretasan itu ditengarai berkaitan dengan fitur “view as” pada lama pengguna, yang disebut sebagai alat untuk mengatur bagaimana akun orang lain melihat gambar profil. Fitur itu kini sedang dinonaktifkan sebagai pencegahan.

 

Facebook juga mereset 50 juta akun yang diyakini terdampak, sehingga pengguna harus melakukan “log in” kembali dengan menggunakan kata kunci.

 

Peretasan ini bukan insiden pertama yang menimpa Facebook. Sebelumnya, puluhan juta pengguna Facebook juga diretas datanya oleh Cambridge Analytica, firma politik yang mendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam Pemilihan Presiden AS pada 2016. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.