Hindari Krisis Ekonomi, Indonesia Wajib Cermati 8 Risiko Ini

Hindari Krisis Ekonomi, Indonesia Wajib Cermati 8 Risiko Ini

Kabar5.Com, Jakarta | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah. Meski besaran depresiasi nilai tukar rupiah saat ini dinilai tak separah krisis 1998, tapi pelemahan rupiah yang terus terjadi sampai saat ini perlu menjadi perhatian agar krisis tak keburu datang.

Seperti dikutip dari riset CNBC Indonesia, Rabu 23 Mei 2018, ada delapan risiko yang membayangi dan berpeluang memukul rupiah lebih dalam. Jika tak diantisipasi, bukan tidak mungkin mini krisis bakal terjadi.

Delapan risiko yang membayangi terjadinya krisis tersebut di antaranya rencana kenaikan suku bunga the Fed, perubahan kebijakan ekonomi, terorisme dan ambisi infrastruktur Jokowi. Kemudian perang dagang AS-China, melemahnya konsumsi publik, perpecahan uni eropa dan perlambatan ekonomi China.

Terorisme

Menurut riset yang dilakukan CNBC Indonesia, kurs rupiah melemah rata-rata 1,1% pada hari yang sama ketika terjadi ledakan bom. Ini menunjukkan bahwa sentimen di pasar uang sangat dipengaruhi aksi-aksi terorisme. Celakanya, dalang aksi bom baru-baru ini belum tertangkap sehingga membuka peluang terjadinya serangan lanjutan.

Kenaikan Bunga Acuan the Fed

Kenaikan suku bunga AS secara lebih agresif menjadi sentimen negatif terbesar kedua, karena kebijakan tersebut memicu pembalikan modal asing dari Indonesia yang akan menekan rupiah. BI baru-baru ini memproyeksikan kenaikan Fed Fund Rate tahun ini bisa mencapai empat kali, atau lebih banyak dari perkiraan pasar sebelumnya sebanyak 3 kali.

Perubahan Kebijakan Ekonomi

Perubahan kebijakan menjadi kian populis juga memicu sentimen negatif di pasar uang. Beberapa lontaran pemerintahan untuk mem-peg harga BBM premium dan tarif listrik hingga 2019 direspons dengan pelemahan rupiah rata-rata 0,27%. Demikian juga kebijakan BBM satu harga yang menafikan praktik korporasi yang wajar hingga memperberat neraca Pertamina.

Perang Dagang AS-China

Perang dagang China dan AS menciptakan risiko selanjutnya, karena keduanya merupakan pasar utama Indonesia. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), kedua negara dengan perekonomian terbesar ini menyerap sekitar 30% produk ekspor nasional.

Perpecahan Uni Eropa

Uni Eropa juga merupakan pasar utama Indonesia, sehingga perpecahan blok ekonomi tersebut juga memberikan dampak negatif terhadap rupiah.

Konsumsi Masyarakat Melemah

Dari dalam negeri, pelemahan konsumsi masyarakat yang sempat santer terdengar menjelang Lebaran tahun lalu terkonfirmasi dengan melemahnya konsumsi dalam porsi pembentukan produk domestik bruto (PDB) sehingga rupiah melemah rata-rata 0,19% merespon konfirmasi tersebut.

Ambisi Infrastruktur Jokowi

Yang juga perlu digarisbawahi, defisit neraca perdagangan hingga US$ 1,63 miliar baru-baru ini dipicu oleh tingginya impor mesin, peralatan listrik, dan baja. Konstruksi menjadi salah satu kontributornya.

Ambisi infrastruktur Presiden Jokowi bisa dibilang turut andil di dalamnya karena proyek-proyek yang manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang tersebut saat ini memicu kenaikan impor baja dan komponen pendukungnya.

Dengan demikian,ketegasan untuk mengerem proyek-proyek yang dinilai kurang memberikan multiplier effect ke industri seperti yang saat ini sedang dilakukan oleh Perdana Menteri Malaysia terpilih Mahathir Muhammad pun dirasa perlu. Negeri Jiran itu mengevaluasi ratusan proyek yang hanya memperberat anggaran.

Perlambatan Ekonomi China

Pemerintah China baru-baru ini menyiapkan kebijakan untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi di Negeri Tirai Bambu tersebut menyusul kenaikan risiko perdagangan dan keuangan.

Saatnya Injak Rem

Di antara berbagai skenario yang membayangi perekonomian nasional tahun ini, diperkirakan ada dua yang paling mungkin terjadi di depan mata dan paling memengaruhi rupiah. Di dunia internasional, kita bakal melihat sikap brutal Presiden AS Donald Trump dalam mengibarkan panji ‘America First’ dan kebijakan proteksionisnya.

Sementara itu di dalam negeri, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berubah menjadi kian populis dan menciptakan langkah mundur atas reformasi ekonomi yang menjadi gebrakannya ketika terpilih pada 2014 lalu. Maklum saja, konstituen perlu diambil hatinya tahun ini, untuk memenangkan pertarungan tahun depan.

Kedua skenario tersebut, jika tidak diubah dari sekarang, diperkirakan bakal berujung pada munculnya delapan risiko yang menciptakan lubang-lubang ranjau di perjalanan pergerakan nilai tukar rupiah.

Rupiah sempat amblas dari Rp 11.000/US$ ke Rp 14.000/US$ pada semester I-1998. Tahun ini, kita melihat rupiah juga melemah hingga menyentuh level Rp 14.200/US$. Meski sekilas terlihat mirip, kondisi keduanya sangat jauh berbeda mulai dari stabilitas perekonomian (meski laju pertumbuhannya sedikit melambat), kesehatan industri perbankan, hingga inflasi yang terkendali.

Namun, ini tak memberi alasan bagi kita untuk terlena dan memilih menebarkan wacana betapa kondisi perekonomian bakal baik-baik saja. Sikap naif demikian pernah kita pertontonkan pada 1996.

Ekonom, mulai dari yang partikelir hingga yang profesional, di akhir tahun 1996 memuja-muji ekonomi nasional. Semua surat kabar arus utama juga optimis dengan nada pemberitaan riang. Lalu kita tahu, muka-muka riang mereka berubah menjadi pucat ketika krisis moneter, krisis ekonomi, krisis politik menyapu, hanya dalam dua tahun kemudian.

(red)

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.