Belajar Dari Peristiwa Erupsi Gunung Merapi

Belajar Dari Peristiwa Erupsi Gunung Merapi

Kabar5.com, Jakarta | Sebelumnya, letusan itu terjadi hari Jumat 11 Mei 2018 dan BNPB mengatakan letusan tidak berbahaya. Letusan ini diakibatkan kontak massa air dengan suhu panas di bawah kawah Merapi. Letusan yang terjadi di Gunung Merapi kemarin masuk dalam kategori letusan freatik.

“Letusan berlangsung tiba-tiba. Jenis letusan adalah letusan freatik yang terjadi akibat dorongan tekanan uap air yang terjadi akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah Gunung Merapi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Jumat 11 Mei 2018.

Selain freatik, ada beberapa jenis letusan pada gunung berapi lainnya. Apa saja? Dikutip berbagai sumber, jenis letusan gunung berapi dibagi tiga kategori yaitu:

1. Erupsi magma, Jenis Erupsi Magma Berdasarkan lubang tempat erupsinya, erupsi magma terbagi atas 3 jenis, yaitu erupsi linier, erupsi sentral dan erupsi areal. Berikut adalah pembahasannya:

  • Erupsi Linear – Adalah erupsi magma yang proses keluarnya celah atau retakan yang berada di kerak bumi. Pada erupsi ini biasanya menghasilkan lava cair yang kemudian membentuk sebuah plato. Contoh dari erupsi ini antara lain adalah sebuah Plato Dekan di India yang tertutup lava dengan ketebalan rata-rata 667 meter serta luasnya 5×10,5 km2 sebagai akibat dari erupsinya.
  • Erupsi Areal – Adalah erupsi magma yang terjadi karena dinding atas atau atau batholith runtuh secara mendadak sehingga menyebabkan magma keluar ke permukaan yang kemudian menyebar ke daerah yang luas. Proses keluarnya magma ini sering disebut sebagai de roofing karena prosesnya yang menimpa bagian atap dari batholith. Contoh dari erupsi ini antara lain adalah Gunung Api Lumpur yang berada di Sumatera Selatan.
  • Erupsi Sentral – Adalah erupsi magma yang terjadi melalui pipa kepundan dan biasanya berlangsung secara singkat. Apabila magma sedikit mengental, maka pipa kepundan tersebut akan tersumbat oleh magma yang membeku dimana nantinya akan disebut sebagai sumbatan lava (lava plug). Lava plug tadi akan menghalangi jalan keluarnya magma yang kemudian gas-gas yang berada dibawahnya akan semakin memberikan tekanan yang kuat sehingga apabila tekanan tersebut semakin kuat maka yang terjadi adalah terjadilah erupsi yang berikutnya. Terkadang lava plug tadi akan sangat kuat sehingga magma akan mencari jalan keluar lain dengan menerobos batuan yang lebih lemah dan kemudian terbentuklah kepundan baru.

2. Freatomagma atau hidrovulkanik.

Ini terjadi akibat adanya kontak antara magma dengan air bawah permukaan atau formasi batuan yang banyak mengandung air menghasilkan abu dan material vulkanik halus. Erupsi ini dicirikan dengan semburan abu vulkanik yang kadang kala diselingi oleh suara gemuruh dan dentuman.

3. Freatik.


Erupsi freatik merupakan letusan gunung berapi yang ditenagai dan didominasi uap air. Menurutnya, erupsi ini melepaskan uap air bertekanan tinggi dalam jumlah besar secara mendadak, setelah uap air tersebut berhasil menembus sumbatan yang menghalanginya. Erupsi ini punya tekanan tinggi, karenanya uap air yang dihasilkan sanggup menggerus dan melepaskan butir-butir kerikil, pasir dan debu di sepanjang dinding saluran magma (diatrema) yang dilintasinya.

“Sehingga uap air yang tersembur pun bercampur dengan material vulkanik dalam bentuk kerikil, pasir dan debu,” jelas Ma’rufin. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.