Jihad Jaman Milenial Jelang Pemilu

Jihad Jaman Milenial Jelang Pemilu
Jihad Jaman Milenial Jelang Pemilu

Kabar5.Com, Serang | Jihad jaman ‘milenial’ saat ini, tidak lagi dalam bentuk perang membawa senjata, namun melalui media sosial (medsos), 8 November 2018.

Jihad kekinian diharapkan tidak membuat kegaduhan di medsos yang bisa berakibat pada kegaduhan di dunia nyata.

 

“Tentu dengan men-share yg baik-baik. Mari kita belajar yqmg baik-baik, agar ibadah kita tentram, itu jihad kita saat ini. Jangan sampai bentar-bentar menuduh kafir,” kata KH.Matin Sarkowi, Pimpinan Majelis Pondok Pesantren (Ponpes) Salafi (MPS) Banten, dalam sebuah diskusi di Kota Serang, Banten.

 

Pemerintah dengan perangkatnya, harus berani menindak tegas baik kelompok maupun pengguna medsos yang membuat kegaduhan di Indonesia.

 

“Indonesia itu beragam, Pancasila itu falasah negara paling indah,” terangnya.

 

Sedangkan menurut pengamat politik, Surya Permana, masyarakat saat ini, terutama netizen, selalu disuguhkan dengan ‘keributan’ di dunia maya, yang selalu memainkan emosi para warga net.

 

“Trend nya saat ini, fase politik, potongan berita, dikomentari, dikritik, diberikan potongan video, dikomentari lagi. Berita malam, pagi dibahas, besok muncul baru lagi,” kata Surya Permana, pengamat politik, ditempat yang sama, pada Rabu, 7 November 2018 kemarin.

 

Mahasiswa, sebagai kaum terpelajar, harus bisa memilah mana informasi yang bermanfaat dan tidak.

 

Mereka sebagai kaum akademisi pun diharapkan bisa menghentikan penyebaran hoax yang semakin merebak saat ini. Dia mengistilahkan ada ‘Perang Hybrid’.

 

“Orang HTI sudah berhasil memainkan tangan orang, orang HTI nya sendiri dingin saja sudah. Ini kesuksesan mereka memainkan perang hybrid. Kabar terbaru, habib Rizieq Ditangkap karena memasang bendera tauhid, di Arab saja dilarang, tapi ada yang memainkan pola kalau itu difitnah,” jelasnya.

 

Media pun diharapkan tidak ikut serta menyebarkan informasi hoax dan yang bisa mengganggu ketentraman masyarakat.

 

“Media punya cara sendiri untuk menyaring beritanya. Beda lagi soal berita advertorial,” kata Wahyu Arya, salah satu redaktur media online di Banten, ditempat yang sama, Rabu, 7 November 2018 kemarin.

 

(Tama)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.