Jokowi Dan Prabowo Dinilai Belum Perkenalkan Gagasan Dan Program

Jokowi Dan Prabowo Dinilai Belum Perkenalkan Gagasan Dan Program
Jokowi Dan Prabowo Dinilai Belum Perkenalkan Gagasan Dan Program

Kabar5.Com, Jakarta | Calon Presiden 2019 Joko Widodo dan Prabowo Subianto dinilai belum memperkenalkan gagasan dan program yang substansial bagi publik sejak kampanye Pilpres 2019 dimulai. Kedua kubu dianggap terlalu sibuk membahas hal-hal yang bersifat sensasional, 10 November 2018.

Direktur Eksekutif New Media Watch, Agus Sudibyo mengaku heran dengan tim sukses Jokowi dan Prabowo yang tak membahas program maupun gagasan ke hadapan publik.

 

Agus menilai semenjak kampanye berlangsung, yang terjadi adalah aksi dan reaksi atas wacana yang bersifat remeh, bahkan cenderung hoaks.

 

Dari riset yang dimilikinya, Agus meyakini konten sensasional tak akan berpengaruh kepada kedua kubu dalam Pilpres.

 

“Hoaks yang dilempar tim Prabowo hanya mempersolid pendukung Prabowo, tidak memengaruhi pihak sana. Hoaks yang dilempar kubu Jokowi hanya mempersolid kubu mereka saja,” ujar Agus dalam diskusi di kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat, 9 November 2018 kemarin.

 

Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Ari Nurcahyo menyayangkan situasi kampanye saat ini. Ari mencontohkan bahasa politik yang dipakai kedua kubu seperti ‘harga tempe’, ‘tampang Boyolali’, ‘sontoloyo’, dan ‘genderuwo’ yang lebih banyak menimbulkan bising ketimbang substansi.

 

Ari berpendapat atmosfer kampanye pada Pilpres 2014 lebih segar ketimbang saat ini.

 

Ia ingat betul istilah yang diperkenalkan oleh Jokowi seperti tol laut, poros maritim, membangun negara dari pinggiran, hingga revolusi mental membawa daya tarik tersendiri yang sedikit banyak berkontribusi pada kemenangan mantan Wali Kota Solo tersebut.

 

“Itu jargon-jargon yang luar biasa, tapi sekarang enggak ada. Sampai sekarang Nawacita 2 belum tahu ngomong apa sih,” tukas Ari.

 

Kritik serupa juga dialamatkan ke kubu oposisi. Ari melihat timses Prabowo yang menjanjikan mengusung isu ekonomi sebagai pusat wacana sampai saat ini masih jauh dari kata cukup, seperti Sandiaga yang kerap mengangkat wacana harga tempe.

 

“Ekonomi kan bukan hanya soal harga. Perlu hal yang lebih besar lagi, itu yang tidak muncul,” imbuhnya.

 

Agus menduga jika pola kampanye seperti ini terus berlangsung hingga akhir, akan banyak pemilih muda yang tidak menggunakan haknya. Pasalnya dari sejumlah riset yang ia amati, pemilih muda memiliki karakter yang rasional dan populasinya besar.

 

Agus memperkirakan masih ada sekitar 40-44 persen pemilih muda yang terdiri dari undecided voter dan soft voter yang masih bisa mengubah pilihannya dalam Pilpres 2019.

 

Mereka disebut rata-rata berkarakter melek literasi, rasional, less commitment, dan tidak berpotensi menentukan pilihannya di detik terakhir karena menunggu program yang ditawarkan para capres.

 

“Sampai dua bulan ini belum ada atau kelihatan kampanye program, masih kosonng. Kalau belum digarap, saya yakin yang golput makin besar,” ujar Agus.

 

Mengutip survei Litbang Kompas yang diumumkam Oktober lalu, elektabilitas Jokowi – Ma’ruf Amin berkisar 52,6 persen, sementara Prabowo – Sandiaga Uno sekitar 32,7 persen, dan 14,7 persen merahasiakan pilihannya. Adapun massa mengambang yang belum pasti menentukan pilihannya sebesar 46,8 persen.

 

Survei itu mendapati 30,2 persen dari pemilih Jokowi-Ma’ruf masih bisa mengubah pilihannya, sedangkan di kubu Prabowo-Sandi ada sekitar 34,2 persen yang berpotensi mengubah pilihan.

 

Survei dilakukan dengan 1.200 responden di 34 provinsi dengan tingkat kepercayaan 95 persen serta margin of error 2,8 persen. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.