Kaltim Zona Merah, Sejumlah Lembaga Gelar Dialog Perppu Ormas

Kaltim Zona Merah, Sejumlah Lembaga Gelar Dialog Perppu Ormas

Kabar5.Com, Kaltim | Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris (FKPT) Kalimantan Timur (Kaltim) M Ilyasin menegaskan, pihaknya setiap tahunnya terus menindaklanjuti hasil penelitian yang dilakukan Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT). 

Pasalnya, Kaltim sejak beberapa tahun terakhir masuk sebagai wilayah dengan zona merah.

Saya mulai 2014 selalu setiap tahun menindaklanjuti penelitian BNPT pusat. Dalam buku BNPT, Kaltim masuk zona merah atau zona yang paling diwaspadai, ini penelitian tahun 2015,” kata Ilyasin dalam acara Dialog Kebangsaan dengan tema Melindungi Indonesia dengan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas di auditorium pasca sarjana IAIN Samarinda, Rabu, 23 Agustus 2017.

Sejumlah pelaku teror menggunakan Kaltim sebagai tempat bersembunyi, bahkan menjadi target aksi terorisme.

Pelaku bom Bali II larinya ke Kaltim, bom Sarinah pelakuknya lari ke Balikpapan dan terakhir kita dikejutkan bom gereja Oikumene di Loa Janan (Samarinda),” sebut Ilyasin melanjutkan.

Ilyasin yang juga Rektor IAIN Samarinda itu menjelaskan, terkait diterbitkannya Perppu Ormas pada Juli lalu itu, membuktikan gerakan ideologi radikalisme yang berupaya menghilangkan nasionalisme atau kecintaan tanah air sudah sangat massif terjadi.

Benar kampus menjadi target sasaran mereka. Makanya di depan orang tua mahasiswa dilakukan MoU untuk menanggulangi ini. Kami coba menjajaki melalui penelitian tahun 2015 bagaimana ideologi itu bisa diterima mahasiswa di kampus, ternyata kebanyakan mahasiswa yang tidak berlatar belakang pesantren, terutama ajaran-ajaran sejak di SLTA melalui Rohis-rohis,” paparnya.

Diterimanya ideologi radikalisme atas nama agama oleh mahasiswa dan terutama kelompok muda akibat mempelajari agama yang tidak secara utuh.

Memahaminya sepotong-potong. Kalau orang sudah memahami al Quran maka dia akan cinta kedamaian dan saling mencintai. Mudah-mudahan semua yang hadir mencintai tanah airnya,” katanya di depan para peserta dialog yang sebagian besar mahasiswa.

Sejumlah narasumber lainnya, Ketua PW GP Ansor Kaltim, Fajri Al Farobi menyampaikan, penyebaran faham radikalisme yang membenturkan antara agama dan negara melalui media sosial harus dilawan. Sebab, penyebaran itu menargetkan kaum muda sebagai generasi milenial yang akrab dengan
teknologi.

Sekarang ini yang perlu diwaspadai oleh generasi milenial yaitu media sosial. Sahabat-sahabat muda ini harus melawan penyebaran ideologi itu melalui media sosial, jangan sembarangan membagikan. Saya pernah katakan kepada Dinas Pendidikan jauh sebelum ini agar keberadaan Rohis dievaluasi di sekolah-sekolah,” katanya menegaskan.

Kasat Binmas Polresta Samarinda, Kompol Hadi Widodo yang menjadi pembicara juga mengatakan, doktrin radikalisme musti dilawan dengan
penyuluhan guna memberikan pemahaman kepada generasi muda sebagai upaya pencegahan.

Kalau sudah dibaiat dan doktrin maka apapun akan mereka lakukan. Jadi ini perlu dilakukan penyuluhan, FGD, dan pemeberian pemahaman,” ujarnya.

Adapun Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Rusman Yaqub yang juga hadir sebagai pembicara mengatakan, dengan adanya Perppu Ormas tidak secara otomatis menghilangkan dan menghentikan ideologi radikalisme yang anti Pancasila dan NKRI. Namun demikian diterbitkannya Perppu tersebut harus didukung untuk kepentingan dan keamanan nasional.

Dengan berlakunya Perppu ini saya kira gerakan radikalisme itu akan terus terjadi. Sebagai generasi muda harus berupaya mencegah itu terutama bentengi dulu diri kita sendiri. Saya kira pemerintah ke depan perlu mendorong mewujudkan keadilan sosial yang menurut para pakar menjadi penyebab suburnya gerakan radikal,” kata Ketua PPP Kaltim itu.

Dialog kebangsaan yang dimoderatori Imron Rosyadi tersebut merupakan garapan bersama Angkatan Muda Kabah (AMK) Kaltim, Institute Democracy and Empowering (IDE), Majelis Pemuda Islam (MPI) Kaltim dan Insntitut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda. (Hery)

 

Facebook Comments

Tags:

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.