Kemensos: Siapkan 7 Dapur untuk Korban Tsunami Banten dan Lampung

Kemensos: Siapkan 7 Dapur untuk Korban Tsunami Banten dan Lampung
Kemensos: Siapkan 7 Dapur untuk Korban Tsunami Banten dan Lampung

Kabar5.Com, Banten | Kementerian Sosial (Kemensos) telah menyiapkan lima titik Dapur Umum Lapangan dan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk korban bencana tsunami di Banten. Lima titik itu berada di Labuhan, Carita, Panimbang, Tanjung Lesung, Cinangka.

Selain dapur umum dan LDP, Kemensos juga menyiapkan tenda darurat untuk para pengungsi. Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, pola penanganan korban bencana tsunami di Banten sama dengan yang ada di Sulawesi Tengah.

“Di lima titik tersebut terdapat tiga layanan Kemensos yakni dapur umum, LDP dan tenda darurat untuk pengungsi,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya, Minggu 23 Desember 2018.

“Ini sama polanya dengan penanganan tsunami dan likuifaksi di Sulteng di mana tiga layanan tersebut kami lakukan secara terpadu.” lanjut dia.

Agus menjelaskan dapur umum beroperasi dengan kapasitas produksi 3.000 nasi bungkus per hari. Dapur umum dikelola oleh tim Tagana dan dinas sosial setempat.

Sementara untuk tim LDP bertugas melakukan asesmen korban bencana yang ada di tenda-tenda pengungsian. Tim Tagana juga turut membantu proses identifikasi korban yang meninggal. “Selain mengelola dapur umum, Tagana juga membantu proses identifikasi korban meninggal,” ucap Agus.

Sementara itu Tagana bersama Dinas Sosial Provinsi Lampung mendirikan dua dapur umum di pelataran parkir gedung Kominfo Provinsi Lampung dan satu dapur umum di depan kantor Pemprov Lampung. Layanan dapur umum tersebut menyatu dengan LDP.

Dapur umum memberikan bantuan dan kebutuhan dasar masyarakat terdampak seperti penyiapan makan dan minum yang layak. Jumlah pengungsi di pelataran parkir gedung Kominfo Lampung hingga Minggu petang mencapai 5.000 orang.

“Lansia, anak-anak, ibu hamil, penyandang disabilitas, ibu dengan bayi atau balita menjadi prioritas penanganan karena mereka merupakan kelompok rentan. Pemerintah terus mengupayakan perlindungan yang terbaik kepada masyarakat terdampak bencana,” ujar dia.

Agus lalu menjelaskan Kampung Siaga Bencana (KSB) di Anyer dan Labuhan juga telah diaktifkan untuk membantu proses penanganan masyarakat terdampak bencana. KSB merupakan wadah penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang dijadikan kawasan atau tempat untuk program penanggulangan bencana.

Tujuan KSB adalah agar masyarakat waspada bencana, siaga pada perubahan lingkungan yang ekstrem, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan dalam menanggulangi bencana. “Kedua KSB tersebut telah diaktivasi dan bersama-sama TAGANA melakukan tugas-tugas perlindungan korban bencana alam,” tutur Agus. (Red)

 

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.