Komnas PA: Doktrin Kebencian Tidak Cukup Hanya Dinonaktifkan

Komnas PA: Doktrin Kebencian Tidak Cukup Hanya Dinonaktifkan
Komnas PA: Doktrin Kebencian Tidak Cukup Hanya Dinonaktifkan

Kabar5.Com, Jakarta | Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, menyebut guru SMA 87 Jakarta berinisial NK yang diduga mendoktrin muridnya terancam dijerat pasal berlapis. Ia mengatakan, seharusnya seorang guru memberi pengajaran dan pendidikan yang baik sehingga dapat mengantarkan muridnya ke masa depan yang lebih baik.

“Peran seorang guru harusnya memberikan pengajaran dan pendidik yang baik. Tidak boleh mengajak peserta didiknya membenci seseorang,” kata Arist, 13 Oktober 2018.

Ia melanjutkan, ibu guru NK tidak cukup hanya dinonaktifkan, melainkan harus diberhentikan, bahkan dapat dipidana atas aksinya yang mengajarkan kebencian terhadap peserta didiknya.

“Mengajak anak untuk membenci seseorang dan mengajak anak untuk tidak menyukai orang lain, menanamkan paham-paham radikalisme, maka itu patut diberhentikan, tapi dia juga bisa dikenakan pidana,” ungkap Arist.

Selain diberhentikan, demi pembelajaran di kemudian hari, NK juga dianggap pantas menerima pasal berlapis. “Dia bisa berlapis-lapis. Mulai ujaran kebencian, kemudian memaksakan orang,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, seorang guru SMA 87 Jakarta berinisial NK diduga telah mendoktrin murid-muridnya untuk membenci Presiden Joko Widodo (Jokowi).

NK mengumpulkan para siswa, kemudian menunjukkan sebuah video gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Kemudian ia menyebut banyaknya korban yang bergelimpangan akibat gempa itu merupakan salah Jokowi. (Red)

 

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.