Menara Pisa Kenapa Miring, Akhirnya Terungkap

Menara Pisa Kenapa Miring, Akhirnya Terungkap

Kabar5.com, Italia | Menara Pisa di Italia mulai dibangun sejak 1173 dan baru rampung pada 1372 setelah melalui beberapa tahap konstruksi yang sempat berhenti beberapa kali. Menara delapan tingkat tersebut memang telah miring sejak awal. Menara dengan tujuh lonceng di lantai teratasnya itu mulai terlihat miring setelah tingkat ketiganya rampung dibangun pada 1178. Bangunan itu miring karena sebagian tanah pondasinya amblas. 

Karena miring, maka pembangunan menara itu sempat dihentikan cukup lama. Meski miring, ternyata bangunan tiga tingkat tersebut tetap kokoh berdiri sehingga hampir seabad kemudian, tepatnya pada 1272, pembangunan menara itu mulai dilanjutkan.

Kelanjutan pembangunan Menara Pisa itu tidaklah lancar, tapi sempat mandek juga pada tingkat ketujuh. Pembangunan menara yang terdiri dari lantai dasar dan lantai 1-7 ini barulah selesai secara keseluruhan pada 1372.

Meski Menara Pisa telah berdiri miring sejak lebih dari 800 tahun lalu, nyatanya bangunan tersebut tetap kokoh sampai kini.

Padahal, sejak 1280, sedikitnya ada empat gempa bumi besar yang melanda kawasan Menara Pisa. Namun hingga kini, menara setinggi 58 meter itu tetap kokoh berdiri dan bahkan tidak rusak.

Maka pertanyaan pun mencuat, mengapa menara itu tetap bisa bertahan meski wilayah tempat ia berdiri pernah beberapa kali mengalami gempa besar?

Pertanyaan yang telah muncul sejak berabad-abad lalu inilah yang kemudian membuat sekelompok tim riset yang terdiri dari 16 insinyur terkemuka berusaha untuk menyelidikinya.

Dalam riset ini para peneliti mempelajari berbagai informasi seismologi, geoteknik dan struktur yang tersedia terkait Menara Pisa.

Dari hasil mempelajari berbagai aspek tersebut, mereka kemudian menyimpulkan bahwa ketahanan menara itu terkait dengan fenomena yang dikenal sebagai interaksi struktur tanah dinamis (dynamic soil-structure interaction/DSSI).

Profesor George Mylonakis, dari Departemen Teknik Sipil University of Bristol, Inggris, yang bergabung dalam tim riset tersebut karena diundang oleh pemimpin tim riset tersebut, yakni Profesor Camillo Nuti dari Roma Tre University, Italia, menjelaskan bahwa ketahanan Menara Pisa disebabkan karena adanya kombinasi yang unik antara ketinggian dan kekakuan menara tersebut dengan kelembekan tanah pondasinya.

Ketinggian dan kekakuan Menara Pisa yang besar dikombinasikan dengan kelembekan tanah pondasinya menyebabkan karakteristik getaran struktur termodifikasi sedemikian rupa sehingga menara tersebut tidak beresonansi dengan gerakan tanah ketika gempa.

Inilah yang menjadi kunci kekokohan Menara Pisa hingga saat ini. Kombinasi unik dari kedua karakteristik itulah yang membuat menara lonceng tersebut pantas memegang rekor dunia dalam efek DSSI.

“Tanah yang sama yang menyebabkan ketidakstabilan yang miring dan membawa menara itu ke ambang kejatuhan, dapat dikreditkan karena membantu menara itu bertahan dari peristiwa-peristiwa seismik ini,” ujar Mylonakis, dikutip dari laman University of Bristol.

Hasil riset Mylonakis bersama 15 insinyur lainnya itu telah dipresentasikan di lokakarya internasional. Namun secara resmi hasil riset ini baru akan diumumkan di European Conference on Earthquake Engineering ke-16 yang bakal berlangsung di Thessaloniki, Yunani pada 18 hingga 21 Juni 2018. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.