Pembiasaan Kunci Pendidikan Karakter

Pembiasaan Kunci Pendidikan Karakter

Kabar5.Com, | Program pendidikan karakter dilakukan di sekolah inklusi SD Negeri 3 Karangrejo Banyuwangi. Pendidikan karakter diterapkan dengan pembiasaan nilai untuk saling menerima perbedaan. 

Demikian disampaikan Yayuk Prayuwati, Kepala SD Negeri 3 Karangrejo, Banyuwangi, ketika ditemui Jumat 8/September/2017.

Kami membiasakan semua murid untuk saling menghargai dan menyadari perbedaan. Guru dan murid selalu berupaya untuk tidak mengucilkan siswa yang berkebutuhan khusus,” ujarnya.

SD Negeri 3 Karangrejo merupakan salah satu sekolah dasar yang dijadikan proyek percontohan sekolah inklusif di Banyuwangi. Sekolah tersebut mencampur siswa berkebutuhan khusus dengan siswa umum lainnya dalam satu kelas.

Program sekolah inklusi di SD Negeri 3 Karangrejo sudah dimulai sejak tahun 2008. Sejak saat itu, sudah ada sekitar 100 siswa berkebutuhan khusus yang belajar di sana. Tahun ini ada 28 siswa berkebutuhan khusus yang belajar di SD Negeri 3 Karangrejo dari kelas I hingga kelas VI.

Siswa berkebutuhan khusus didominasi oleh siswa yang mengalamai lambat belajar. Namun beberapa siswa berkebutuhan khusus lainnya ada yang menderita autisme, tunarungu, tunadaksa dan lainnya.

Pembiasaan, lanjut Yayuk, menjadi modal utama pengembangan karakter siswa untuk bisa menerima kondisi rekan-rekannya yang berkebutuhan khusus. Melalui pembiasaan tersebut, siswa menganggap siswa berkebutuhan khusus sebagai rekannya yang tidak patut dikucilkan

Kami mengajari dan mengajak siswa-siswa untuk biasa memaklumi temannya yang berkebutuhan khusus. Lama kelamaan mereka maklum. Tidak ada yang mengganggu atau mengolok siswa berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Yayuk mengatakan, justru siswa berkebutuhan khusus yang kadang mengganggu rekan-rekannya. Namun, karena dibiasakan untuk memaklumi, mereka juga tidak melawan atau membalas saat diganggu oleh temannya yang berkebutuhan khusus.

Pembiasaan juga dilakukan dalam proses belajar mengajar. Siswa yang berkebutuhan khusus dibiasakan berada dalam satu kelas dengan teman-teman lainnya. Hal itu dilakukan agar anak-anak berkebutuhan khusus bisa bersosialisasi dengan rekan-rekanya.

Kendati tidak diistimewakan, namun kami menyediakan kelas dan pelajaran khusus bagi siswa berkebutuhan khusus. Hal itu dilakukan supaya siswa berkebutuhan khusus dapat pendampingan yang lebih intensif agar dia tidak ketinggalan pelajaran dengan teman-teman sebayanya,” ujarnya.

Selain pembiasaan, kesabaran guru juga menjadi kunci pendampingan siswa berkebutuhan khusus. Guru juga diminta terbiasa sabar dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus.

Di kelas III, ada seorang siswa hiperaktif yang kerap mengganggu rekan-rekannya saat pelajaran. Siswa tersebut kerap berteriak-teriak, mengambil barang milik rekannya hingga berlari-lari di dalam kelas saat pelajaran.

Kami hanya bisa memberitahu siswa tersebut dengan sabar. Kami harus membiasakan dia untuk tertib saat pelajaran. Mereka juga perlu dibiasakan,” ujar Ani Kristanti Guru SD Negeri III Karangrejo.

Ani megatakan, penanaman pendidikan karakter hanya bisa dilakukan melalui pembiasaan. Menurutnya, pendidikan karakter bukan sebuah teori, melainkan penanaman nilai-nilai yang harus terus dibiasakan melalui kehidupan sehari-hari. (red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.