Pemilu Meksiko, 3 Calon Presiden Akan Rebutkan Tahta Kepresidenan

Pemilu Meksiko, 3 Calon Presiden Akan Rebutkan Tahta Kepresidenan

Kabar5.com, Mexico | Dalam pemilihan presiden (pilpres) Mexico yang akan digelar 1 Juli besok, ada tiga capres yang akan bertarung menggantikan kepemimpinan Presiden Enrique Pena Nieto, yang sangat tidak populer di tengah melonjaknya kejahatan kekerasan dan korupsi di negara tersebut.

Capres terpopuler dari sayap kiri, Andres Manuel Lopez Obrador, atau AMLO, diprediksi akan memenangi pemilu Mexico besok. Mantan Wali Kota Mexico City yang dijuluki sebagai “Donald Trump-nya Meksiko” itu unggul dalam polling-polling menjelang pilpres. Dalam kampanyenya, dia berjanji akan memerangi “mafia kekuasaan” untuk membela masyarakat jelas pekerja.

AMLO yang menjadi capres dari partai Morena itu, bersumpah akan melakukan perubahan besar bagi Meksiko. Dia berjanji akan merombak kesehatan dan pendidikan masyarakat, mengakhiri privatisasi sumber daya negara dan memperbaiki kehidupan rakyat miskin. AMLO juga bertekad akan memerangi korupsi yang merajalela dalam sistem politik Meksiko.

Pria berumur 65 tahun yang terkenal akan orasinya itu, mendapat dukungan luas dari warga Meksiko yang lelah akan meningkatnya kejahatan kekerasan, korupsi dan perekonomian yang lesu. Dia kerap melontarkan kritikan pada Presiden AS Donald Trump terutama mengenai kebijakan imigrasi dan perdagangan AS.

Para pendukungnya mengharapkan dia akan bisa menghadapi Trump, yang terus menyerang dan menghina Meksiko. Bagi AMLO, ini ketiga kalinya dia menjadi capres. Sebelumnya, AMLO pernah menjadi menjadi runner-up dalam pilpres sebanyak dua kali.

Capres lainnya, Ricardo Anaya dari Partai Aksi Nasional konservatif (PAN), merupakan mantan anggota parlemen berusia muda. “Saya tidak mencalonkan diri sebagai presiden Meksiko untuk terus melakukan hal yang sama. Saya ingin menjadi presiden sehingga saya bisa memastikan tercapainya perubahan dramatis yang dibutuhkan negara kita,” kata Anaya.

Capres terakhir, Jose Antonio Meade yang merupakan mantan menteri keuangan. Dia merupakan capres dari Partai Revolusioner Institusional (PRI) yang berkuasa.

“Kita bisa menang!” ujarnya dalam konvensi nasional PRI saat pengumuman pencalonan dirinya. “Saya melakukannya untuk Meksiko dan meminta Anda semua untuk melakukannya juga bagi Meksiko,” imbuhnya.

Meksiko telah dilanda gelombang kekerasan sejak pemerintah mengerahkan militer untuk memerangi peredaran narkoba pada tahun 2006. Sejak saat itu, lebih dari 200 ribu orang telah dibunuh — meskipun statistik tidak menelusuri berapa banyak kasus pembunuhan yang terkait dengan kejahatan terorganisir. Sebanyak 30 ribu orang lainnya dilaporkan hilang.

Selain memilih presiden baru, rakyat Meksiko akan memilih anggota Kongres dan ribuan pejabat negara bagian dan lokal dalam pemilu pada minggu besok. Masalah korupsi dan kekerasan telah menjadi isu dominan selama kampanye para politikus menjelang pemilu. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.