Pendapat UGM Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Saat KKN

Pendapat UGM Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Saat KKN

Kabar5.Com, Yogyakarta | Seorang mahasiswi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisial AN diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh sesama rekan KKN berinisial HS, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2014.

Peristiwa ini terjadi saat mahasiswi angkatan 2014 ini mengikuti Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku pertengahan tahun 2017 lalu.

 

Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut.

“Kasus seperti yang diberitakan di Balairungpress itu memang pernah terjadi. UGM menaruh empati yang luar biasa kepada penyintas yang menjadi korban, kami juga merasa prihatin dengan kejadian itu,” ujar Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani, 6 November 2018.

Iva menjelaskan, setelah mengetahui kejadian tersebut, UGM langsung melakukan tindakan dan penanganan. Salah satunya adalah membentuk tim investigasi independen.

Tim independen ini dibentuk melalui surat keputusan rektor untuk menyelesaikan kasus tersebut. Tim investigasi independen ini berisikan dari dosen Fisipol, dosen Fakultas Teknik dan dosen Fakultas Psikologi.

Menurutnya, tim independen juga sudah bertugas melakukan investigasi langsung ke lapangan. Tim investigasi independen juga telah memberikan rekomendasi-rekomendasi yang juga sudah dijalankan oleh UGM. Salah satunya, memberikan pendampingan kepada korban.

“Kami melakukan pendampingan berkelanjutan kepada korban. Sanksi pelaku waktu itu juga langsung ditarik dari KKN,” urainya.

Tim investigasi independen juga telah mempertemukan semua pihak untuk berdialog dan menyelesaikan persoalan tersebut.

“Kemarin kami melihat persoalan sudah selesai, sudah didiskusikan dan ketemu dengan semua pihak,” imbuhnya.

Iva menuturkan, akan menindaklanjuti keluhan penyintas yang disampaikan dalam pemberitaan Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung. UGM akan segera mengambil langkah-langkah demi memberikan keadilan kepada korban.

“Kami bisa menangkap, mungkin masih ada ganjalan yang dirasakan oleh penyintas, karena itu UGM akan mengambil langkah-langkah karena keadilan itu harus ditegakkan,” bebernya.

“Pada intinya UGM membantu dan mengawal penyintas ini untuk mendapat keadilan se adil-adilnya, itu prinsipnya,” imbuhnya.

Langkah-langkah yang akan diambil, lanjutnya, UGM akan langsung menemui korban. UGM juga akan mengambil langkah tegas dengan membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

“Langkah-langkah hukum akan kami ambil selanjutnya agar penyintas mendapatkan keadilan. Kita percayakan proses ini kepada yang berwenang,” pungkasnya.  (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.