Polri ke Orang Tua: Waspada Anak Direkrut Jadi Hacker

Polri ke Orang Tua: Waspada Anak Direkrut Jadi Hacker
Polri ke Orang Tua: Waspada Anak Direkrut Jadi Hacker

Kabar5.Com, Jakarta | Kasus peretasan situs pemerintah di Sulawesi Tenggara yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur terus didalami. Tapi ada satu hal yang menjadi catatan polisi. Para orang tua diminta mengawasi ketat anak-anaknya agar bisa melakukan hal positif.

Kasubdit Cyber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul meminta para orang tua secara intensif mengawasi apa yang dilakukan oleh anak-anaknya. Hal ini dilakukan agar anak-anak tetap dalam kontrol para orang tua.

“Dengan adanya pengungkapan kasus ini, saya berharap kepada seluruh orang tua selalu mengawasi secara intensif kepada anak-anaknya. Terutama anak-anak yang jago dan pintar menggunakan IT,” ungkapnya di kantor Bareskrim Polri, Cideng,Jakarta Pusat, Jumat 9 November 2018.

Tanpa adanya pengawasan, dia khawatir anak-anak akan dibawa masuk ke dalam hal-hal kriminal seperti ini oleh orang tidak bertanggung jawab. Maka dia berharap agar orang tua ikut andil dalam pencegahan hal seperti ini.

Perekrutan dari hacker anak-anak di bawah umur sendiri dilakukan melalui games dan media sosial. Kedua hal itu susah menjadi sesuatu yang dekat dengan anak-anak sekarang.

“Di dunia maya. Awal dari game. Ada yang jago diajak masuk grup,” jelasnya.

Sebelumnya, polisi berhasil meringkus tiga anak di bawah umur dan satu remaja. Namun hingga saat ini, otak dari BLACKHAT ini belum tertangkap.

Adapun tersangka yang berhasil ditangkap yaitu LCY alias Me.I4m4 dengan umur 19 tahun, belum bekerja, alamat di Kediri. MSR alias G03NJ47 umur 14 tahun, Cirebon. JBKE alias Mr.4l0ne, umur 16 tahun, di Surabaya. HEC alias S3CD3C atau DAKOCH4N umur 13 tahun di Jambi.

Motif anak-anak ini melakukan peretasan semata untuk unjuk gigi. Penyelidikan kepolisian tak terkait dengan terorisme.

“Awalnya kami mencurigai bahwa ada kelompok radikalisme yang akan menyerang wilayah Sulawesi Tenggara melalui web ini, ternyata setelah kita dalami hanya kelompok anak-anak ini yang hacking, yang mana mereka memiliki kemampuan di bidang hacking,” jelas dia.

Anak-anak ini tergabung dalam komunitas grup WhatsApp A BLACKHAT. Mereka selalu komunikasi intens.

“Masing-masing tersangka mencoba membajak, mengubah tampilan. Kalau sudah berhasil mereka akan upload ke grup, ‘saya berhasil, saya berhasil, saya berhasil’,” beber Rickynaldo. (Red)

 

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.