Rumahnya Dirobohkan, Pria Ini Nekat Panjat dan Bertahan di Atas Genting

Rumahnya Dirobohkan, Pria Ini Nekat Panjat dan Bertahan di Atas Genting

Kabar5.Com, Yogyakarta | Seorang warga penolak Bandara Yogyakarta baru (New Yogyakarta International Airport), Sumiyo 56, nekat memanjat dan bertahan di atap genting rumahnya yang ada di Sidorejo, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Langkah itu dilakukan agar rumah yang dia bangun dengan hasil keringat dengan bertani, tidak dirobohkan. Namun, upaya ini tetap sia-sia, karena petugas tetap merobohkan rumahnya, 21 Juli 2018.

Langkah Sumiyo mempertahankan atas tanah dan bangunan rumah ini dilakukan ketika petugas dari PT Angkasa Pura I dengan pengamanan dari kepolisian, TNI dan Satpol PP melakukan perobohan rumah-rumah warga yang menolak bandara. Sebelum petugas membacakan maklumat putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap, jika hak tanah sudah menjadi milik negara dia memanjat ke atap rumahnya dengan menggunakan tangga.

Di atap genting dia bertahan dengan berpegangan pada tiang listrik yang aliran listriknya sudah diputus PLN. Dia bertahan di atas dan tidak mau turun. Dia hanya diam dan terus berdoa dan memohon.

Petugas yang akan melakukan eksekusi untuk merobohkan pun dibuat kesulitan. Beberapa kali dibujuk untuk turun, tetap tidak diindahkan. Miyo tetap berada di atas genting rumahnya dan mengacuhkan ratusan orang yang berada di bawah.

Dengan terpaksa akahirnya petugas menyusul naik ke atas untuk membujuk agar turun. Satu, dua petugas Satpol PP yang naik tidak mampu membujuk untuk turun. Hingga akhirnya dipaksa, dengan menambah petugas Satpol PP dan polisi. Hingga akhirnya dia dipaksa dan diturunkan, dengan menggunakan ujung backhoe.

Begitu sampai Miyo langsung diamankan oleh petugas. Namun, warga penolak meminta agar Miyo diserahkan kepada mereka.

“Ini sangat dramatis, alhamdullilah bisa turun,” ucap Kapolres Kulonprogo AKBP Anggara Nasution.

Menurutnya, untuk mengamankan pengosongan lahan ini, mereka menerjunkan sekira 700 personel gabungan dari TNI Polri dan Satpol PP. Mereka juga dibantu relawan yang bertugas membantu mengemasi barang-barang milik warga.

“Wajar ada sedikit panas dan gesekan, semuanya tetap kondusif,” ujar Anggara.

Diakuinya, mereka sempat menghalau dua orang aktivis yang mengganggu proses land clearing. Dua aktivis ini dihalau agar menjauh dan tidak menghalangi pekerjaan.

Pada hari kedua ini, upaya warga yang menolak pengosongan rumah cenderung lebih landai. Warga sudah tidak mampu lagi berbuat banyak untuk mempertahankan rumah. Bahkan, ada sebagian yang sudah siap dan mengemasi barang-barang untuk dipindah. Ada pula yang minta agar kusen pintu dan jendela serta genting untuk dilepas terlebih dulu.

“Kita penuhi warga yang minta kusen dan genting. Malah juga kita antar ke tujuan,” jelas Sujiastono Project Manager Pembangunan NYIA.

Sementara itu, Fajar Ahmadi mengaku belum tahu akan kemana mereka akan tinggal. Mereka tidak mau menerima rumah kontrakan yang disiapkan oleh Angkasa Pura. Warga masih menjadi pemilik tanah meskidiklaim sudah berkekuatan hukum tetap.

“Tidak tahu nanti dimana. Ini adalah tanah kami. Kami ada sertifikat,” jelasnya. (Red)

 

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.