Sapi Kurban di Padang Sebelum Dipotong, Dimandikan, Dibedaki dan Disisir

Sapi Kurban di Padang Sebelum Dipotong, Dimandikan, Dibedaki dan Disisir
Sapi dimandikan terlebih dahulu sebelum disembelih.

Kabar5.Com, Padang | Di tangan kanan Elok (68) sudah memegang gayung warna merah bata yang sudah berisi air warna coklat, irisian jeruk purut dan bunga tujuh rupa lalu isi gayung itu disirami kepada seekor sapi jantan berbulu putih.

Kemudian dilanjutkan menyisir kepala sampai ke badan dan terakhir kalinya cermin putih sebesar telepak tangan dewasa letakkan dimatanya. Dari jauh keluar suara Iman Masjid Nurul Huda Kelurahan Ujung Gurun, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat bahwa prosesnya sudah selesai dan bisa disembelih.

Itulah proses pemotongan sapi kurban pengikut Terekat Syattariyah yang ada di Kota Padang, setiap sapi pemilik sapi kurban atau warga memberikan kurbanya ke masjid tersebut wajib atau bisa diwakilan mendandani sapinya sebelum dipotong.

Idul Adha tahun ini ada lima ekor sapi kurban yang dipotong untuk disumbangkan kepada jamaah Tarekat Syattariyah dan keluarga miskin yang ada di daerah tersebut.

“Setiap orang yang memberikan sapi kurbannya sebelum dipotong dimandikan dan didandani dulu, untuk alat mandi dan sisir, kaca dan pisaunya ada disediakan masjid,” ujarnya Bainullah Tuanku Sutan, Imam Masjid Nuruh Huda, Sabtu, 2 September 2017.

Bahan yang disediakan itu adalah bunga tujuh rupa, jeruk purut dan bedak, kemudian jeruk purut diiris dan diperas dimasukkan ke dalam wadah ember bersama dengan air, lalu bunga tujuh rupa tersebut juga ditabur dalam ember kemudian bedak diaduk bersama air hingga airnya coklat. Lalu pisau, sisir serta cemin disandingkan dengan ember yang sudah siap.

Kita awali berdoa bersama dalam masjid agar prosesnya berjalan lancer, setelah itu baru kita adakan proses penyembelihan seperti proses tadi,” tuturnya.

Menurut Buya Bainullah Tuanku Sutan atau lebih dikenal Tuanku Elok ini tradisi ini sudah temurun dilakukan oleh Tarekat Syattariyah, ini sebagai wujud Nabi Ibrahim mempersembahkan anaknya Ismail kepada Tuhan.

“Sebelum dipersembahkan istrinya Sahra mendadani Ismail, mulai mandi, sampai menyisir rambutnya, namun wujud yang kita lakukan adalah saat berkurban kita melaksanakan prosesi tersebut,” katanya.

Tuanku Elok mengakui ada perubahan, seharusnya bedak-bedak itu tidak langsung dicampur dengan air bersama jeruk purut dan bunga tujuh rupa. Sebelumnya dimandikan, kemudian dibedaki, disisir lalu bercermin kemudian disembelih.

“Tapi kini bedak sudah dicampur dengan air, ini lantaran proses membedak itu sapi sering meronta-ronta jadi sekaligus saja dilakukan,” ujarnya.

Tradisi ini rutin dilaksanakan termasuk jamaah Tarekat Syattariyah lainnya yang ada di Padang. Untuk Tarekat Syattariyah di Padang berasal dari Padang Pariaman, Solok, Tanah Datar dan Persisir Selatan. Tarekat ini biasanya selalu telat sehari dari hari raya pada umumnya namun tahun ini sama dengan umat muslim lainnya.

“Rata-rata warga yang merantau ke Padang, tapi sudah lama dan menetap di sini,” pungkasnya.

 

(red)

 

Facebook Comments

Tags: ,

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.