Seorang Petani Harus Dirawat Intensif Karena Diserang Gajah

Seorang Petani Harus Dirawat Intensif Karena Diserang Gajah
Seorang Petani Harus Dirawat Intensif Karena Diserang Gajah

Kabar5.Com, Aceh | Seorang petani warga Desa Pulo Ie, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh, diserang gajah liar saat pulang dari kebunnya, Rabu, 14 November 2018 lalu. Kamaruddin (55 tahun) diinjak di bagian dada sehingga mengalami patah tulang klavikula yang terletak di bagian atas rusuk, 17 November 2018.

Hingga Jumat, 16 November 2018 kemarin Kamaruddin masih harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Teungku Chik Ditiro, Sigli.

 

Kepada CNNIndonesia.com Kamaruddin menceritakan kejadian nahas yang dialaminya. Dia menceritakan, tiba-tiba seekor induk gajah besar yang sedang bersama anaknya muncul dari semak-semak dan menyeruduk Kamaruddin sehingga ia terjatuh. Selanjutnya sang anak gajah juga ikut menyerang dengan menginjak di bagian sekitar rusuk Kamaruddin.

 

Kamaruddin yang saat itu dalam keadaan panik mengaku sempat memohon ampun kepada gajah sambil mengangkat kedua tangannya. Akhirnya, lanjut Kamaruddin, sang induk gajah bersama anaknya pergi meninggalkan dirinya yang sudah tak berdaya.

 

“Saya minta ampun tiga kali,” ujar Kamaruddin.

 

Tim medis yang menangani Kamaruddin mengatakan sedang menunggu perkembangan kondisi korban untuk menentukan apakah perlu dilakukan operasi.

 

“Itu kondisinya patah tulang klavikula sebelah kanan. Kondisi sedang dalam perawatan sama dokter slesialis ortopedi,” ujar dr Dwi, Kepala Bidang Pelayanan Medik RS Teungku Chik Ditiro.

 

Konflik antara gajah dan manusia kian marak di Aceh. Sejak satu bulan terakhir sejumlah kasus masuknya kawanan gajah liar ke permukiman warga terjadi secara terus-menerus di beberapa kabupaten. Di antaranya Kabupaten Aceh Timur, Pidie, Aceh Besar hingga Aceh Jaya.

 

Kepala Pusat Kajian Satwa Liar Universitas Syiah Kuala, Wahdi Azmi yang diwawancarai pada Jumat, 9 November 2018 lalu mengatakan penyebab utama konflik gajah dan manusia di Aceh adalah populasi terbesar gajah justru berada di luar kawasan konservasi.

 

 

Bahkan sebagiannya malah disebut berada di luar kawasan hutan, alias di sekitar areal perkebunan warga. Wahdi mengatakan tak ada solusi lain untuk menangani konflik ini kecuali semua pihak pemangku kepentingan bekerja bersama-sama di bawah satu koordinasi.

 

“Solusi ke depan kita ingin menjalin sinergi antara manajemen otority BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dengan KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) untuk secara aktif mengelola habitat gajah di Aceh,” kata Wahdi. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.