Teror Bom, Investasi Indonesia Stabil

Teror Bom, Investasi Indonesia Stabil

Kabar5.Com, Cilegon | Teror bom yang terus mengguncang wilayah Jawa Timur (Jatim), tak mempengaruhi iklim investasi dan perekonomian nasional.

“Tapi dalam praktek, Indonesia menjadi tempat tumbuhnya investasi dan tempat pelariannya investasi. Datang dengan mudah dan pergi dengan mudah,” kata Noorsy, pengamat ekonomi, saat ditemui di Kota Cilegon pada Senin malam, 14 Mei 2018.

Dalam pandangannya, ada beberapa faktor penyebab terjadinya tindakan terorisme di Jawa Timur (Jatim), pertama, menurutnya, terkait rencana pertemuan Trump dengan Kim Jong Un di Singapura. Kedua, terkait keluarnya Amerika dari kesepakatan denukrilisasi dengan Iran.

Lalu yang ketiga, ada kaitannya dengan kemenangan Mahatir Muhamad sebagai Perdana Menteri (PM) Malaysia. Kemudian, demonstrasi menolak pemindahan kantor Duta Besar (Dubes) Amerika di Yerusalem. Terbaru, bentrokan di Rutan cabang Salemba di Mako Brimob dan terkahir perang hastag ganti presiden.

Para pelaku teror bom dan rangkaian kejadian sebelum teror bom, memiliki keterikatan yang kuat. Hingga akhirnya akan membentuk gambaran, apakah Indonesia masuk ke dalam Islam damai atau radikal.

Dia pun menjelaskan, seharusnya aksi teorrisme tidak lagi mengatasnamakan Islam. Lantaran, di jaman kepemimpinan Rasulullah saja, dalam peperangan, tidak ada kekejaman.

Noorsy mengistilahkan Perang Peradaban, yakni negara barat coba mengintervensi negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim, dimulai dengan membuat inflasi yang tinggi di negara itu. Hingga akhirnya, membuat ketergantungan banyak tuan kepada negara barat.

“Jadi saya melihat berbeda dari kebanyakan orang, kalau dalam perang peradaban yang terjadi seperti Arab Springs, negara-negara Arab itu dihajar habis dan dimulai dengan inflasi,” jelasnya.

Dia mencontohkan, ketika Amerika menarik diri dari kesepakatan demikian Iran, maka akan membuat negeri Paman Sam itu tetap menduduki peringkat teratas dalam industri persenjataan dan keuangan.

Dia pun menolak jika ada anggapan kalau, kemampuan inteligen Indonesia lemah dalam memantau tindakan radikalisme. Selain terbentur dengan Undang-undang (UU) Terorisme, ada juga kegunaan dari inteligen di Indonesia.

“Pertama dia harus bisa mengantisipasi suatu gerakan kemana dan itu kemudian orang menyebut inteligen lemah, karena antisipasi sebelumnya tidak terjadi. Tapi saat yang sama, inteligen bukan mengantisipasi sesuatu, tapi mendorong sesuatu,” ujarnya. (Tama)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.