Bosscha Bisa lebih Baik Dari Observatorium Norwegia

Bosscha Bisa lebih Baik Dari Observatorium Norwegia

Kabar5.Com, Jakarta | Banyak hotel yang menawarkan pengalaman bermalam dengan pemandangan gugusan bintang. Itu biasa. Oslo, Norwegia, memberi para turis pengalaman unik dengan fasilitas menginap di pusat pengamatan tata suryanya, Solobservatoriet. Senin 14 Mei 2018.

Gedung ini sempat dijadikan benteng pertahanan tentara Amerika saat Perang Soviet. Setelah lama teronggok, perusahaan arsitektur di Norwegia mengubahnya menjadi objek wisata baru.

Di dalam gedung terdapat tujuh kabin yang bisa diinapi. Satu kabin bisa ditiduri oleh dua orang dewasa.

Berjarak sekitar 72 kilometer dari Oslo, observatorium ini terbilang baru. Bangunannya yang berbentuk kubah minimalis tampak mencolok di tengah hutan pinus yang mengelilinginya.

Selain bermalam sambil memandang bintang, tamu juga bisa berkeliling di museum astronomi di dalamnya. Di malam hari ada kegiatan pengamatan bintang di luar ruangan.

Yang ingin melihat fenomena alam Cahaya Utara tinggal menunggunya dengan sabar tak jauh dari observatorium.

Seperti yang dikutip dari Travel and Leisure, “Solobservatoriet bakal dioperasikan mulai tahun 2020. Norwegia seakan menjadi negara dengan banyak bangunan indah yang menyatu dengan alam.”

Belum lama ini diberitakan bahwa ada kamar mandi berpemandangan fotogenik di Norwegia. Berada di Gildeskål, dekat kawasan Norwegian Scenic Route Helgelandskysten, toilet umum ini berbentuk minimalis dengan atap bergelombang.

Saat malam tiba, cahaya dari dalam bilik bakal bersinar terang. Dari kejauhan, bangunannya malah mirip hotel.

Norwegian Scenic Route Helgelandskysten selama ini memang menjadi lokasi favorit yang dikunjungi untuk menikmati fenomena alam Cahaya Utara.

Keberadaan toilet umum tentu saja sangat dibutuhkan oleh turis yang datang ke sana. Dari titik toilet umum, pengunjung bisa melihat pemandangan pantai yang dibingkai oleh pegunungan es. Selain toilet umum, di sekitarnya juga ada komplek pertunjukkan terbuka dan tempat parkir mobil.

Pemerintah Norwegia berencana untuk memperbanyak toilet umum seperti ini di kawasan lain yang juga sering dikunjungi turis, seperti Ryfylke, Hardangervidda, Helgelandskysten, Andøya dan Lofoten.

SEJARAH TEROPONG BINTANG BOSSCHA

“Dari Negara Norwegia diatas,kita bisa menerapkan pada salah satu objek Wisata kita yang sama seperti Bosca (Museum terpong Bintang), yang berada dibandung.” (Red)

Teropong Bintang Bosscha atau Observatorium Bosscha yang dahulunya bernama Bosscha Sterrenwacht, digagas atau dicanangkan pertama kali sebagai proyek mega penting pada masanya ini yakni dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda, dengan peletakan batu pertama di tahun 1923 dan beres pada tahun 1928.

Pembangunan Teropong Bintang Bosscha di Lembang Bandung bukan tanpa alasan atau hanya proyek mercusuar semata dari segelintir golongan kaya bangsa belanda seperti yang terjadi dengan kontroversi tentang Misteri Villa issola.Observatorium Bosscha dibangun dan didirikan dengan tujuan penting dari para ahli astronomi pada abad ke-20,dimana mereka menyadari bahwa gugusan bintang-bintang di angkasa itu ternyata membentuk sebuah sitem galaksi yang satu sama lainnya terikat.Nah,berbekal keinginan tahuan memahami struktur jaringan galaksi yang sangat luas tersebut, maka mereka berpkir tak hanya cukup bisa meneliti apabila sejumlah teleskop besar untuk meneliti galaksi tersebut hanya berpusat di belahan bumi bagian utara saja seperti Eropa dan Amerika.

Adalah Karel Albert Rudolf Bosscha seorang pengusaha kaya sebagai penyandang dana utama proyek pembangunan Observatorium ini,di bantu Rudolf Albert Kerkhoven serta astronom kenaam belanda kelahiran Madiun Jawa timur Joan George Erardus Gijsbertus Voûte,sehingga pusat penelitian benda langit di Lembang Bandung ini diberi nama Bosscha.

Menelan dana anggaran pembangunan hingga 1 juta Gulden atau 1/6 dari dana anggaran pembangunan gedung besejarah di Bandung lainnya yaitu Gedung Sate yang fenomenal,observatorium Bosscha tepat pada tanggal 17 oktober 1951 diserahterimakan kepemilikannya, yang semula dikelola oleh Perhimpunan Bintang Hindia Belanda ( NISV ) kepada pemerintah RI.Dan selang 8 tahun kemudian salah satu Tempat Wisata Sejarah kota Bandung tersebut diserahkan pengelolaanya kepada perguruan tinggi ITB,dan sejak saat itulah Teropong Bintang Bosscha menjadi pioneer dan satu-satunya pusat lembaga penelitian dan pelatihan Astronomi Indonesia. (Red)

Tags: ,

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.