Benteng Ini Jadi Saksi Bisu Pelatihan Tentara Jepang

Benteng Ini Jadi Saksi Bisu Pelatihan Tentara Jepang

Kabar5.Com, Jawa Tengah | Benteng Pendem Kalimaro, merupakan peninggalan zaman penjajahan Jepang di Purworejo, Jawa Tengah. Benteng dibangun sebagai pusat pertahanan dan pelatihan perang parit tentara Jepang.

Dibangun di atas perbukitan Menoreh pada tahun 1942, total benteng berjumlah 11 bangunan dan terletak di 3 desa yakni Desa Bapangsari, Dadirejo dan Tlogo Kotes Kecamatan Bagelen. Beteng berkonstruksi beton bertulang tersebut dibangun di atas lahan warga seluas 500 hektar.

Saat itu, Jepang baru saja merebut kekuasaan dari Belanda di Pulau Jawa, termasuk menusuk hingga daerah Purworejo. Sebagai strategi perang, keberhasilan ini harus diimbangi dengan penciptaan sistem pertahanan yang kuat.

“Jepang memilih membangun di tempat itu karena dirasa strategis. Namun itu di atas tanah milik warga dan rebut secara paksa,” ucap Kasi Museum Sejarah Cagar Budaya Nilai Budaya Dan Tradisional Dinparbud Purworejo, Eko Riyanto, 18 Agustus 2018.

Tampak bagian atas benteng tertimbun tanah setebal 1 meter dengan lubang pengintaian di dinding berukuran 100 x 20 cm, sedangkan dalam bangunan terdapat timbunan tanah setebal 1,5 meter. Bangunan beton setebal 60 cm itu rata-rata memiliki 2 pintu masuk selebar 115 cm dengan tinggi 175 cm dan lebar 116 cm dengan tinggi 115 cm.

“Terdapat sebuah ruangan utama dengan ukuran 6×3,7 meter. Selain itu juga dilengkapi dengan bak penampungan dan pengontrol air. Untuk panjang dan lebar bangunan rata-rata berukuran 9×6 meter,” imbuh Eko.

Sesuai dengan fungsinya, benteng dibangun sebagai pusat pertahanan dan pelatihan perang parit dari tentara Jepang. Di sekitar benteng terdapat parit selebar 1 meter yang saling menghubungkan antara satu benteng dengan lainnya.

“Benteng dibangun oleh kontraktor Jepang dan pekerja dari warga pribumi yang bekerja tanpa upah atau romusha. Lama pembangunan sekitar 8 bulan dikerjakan tanpa henti siang malam,” lanjutnya.

Hingga kini, benteng tersebut masih berdiri kokoh di puncak bukit. Meski menjadi obyek wisata sejarah, sayangnya akses jalan menuju lokasi ini rusak sehingga menyulitkan warga untuk menuju tempat tersebut. (Red)

Facebook Comments

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.