Kapolri Ajak Dunia Internasional Ikut Perangi Terorisme

Kapolri Ajak Dunia Internasional Ikut Perangi Terorisme

Kabar5.Com, Jakarta | Aksi tegas aparat kepolisian dalam menangani terorisme berlangsung sistematis dan cepat. Densus 88 berhasil menangkap 74 terduga teroris di berbagai daerah serta membuat ruang gerak mereka terdesak.

Keberhasilan Polri yang cepat menindak para terduga teroris itu pun banyak mendapat apresiasi. Terlebih, tugas Polri tidak hanya memberikan rasa aman kepada masyarakat, tetapi juga menjamin suasana tetap kondusif agar kepercayaan internasional juga terjaga.

Seperti yang dilakukan Kapolri Jenderal (Polisi) Tito Karnavian baru-baru ini. Dalam sebuah kesempatan di tengah perburuan jaringan teroris yang masih berlangsung, dia mengambil langkah cepat dengan mengundang sejumah duta besar ke kediamannya.

Agenda tersebut bertujuan untuk menjelaskan penanganan serangan teror di Indonesia termasuk kondisi keamanan terakhir. Dalam pertemuan itu, Tito memastikan kepada para pejabat Kedubes akan kondisi keamanan nasional yang hingga kini sangat terkendali.

Dia lantas mengajak seluruh yang hadir untuk bersama-sama memerangi terorisme. Sebab, kejahatan luar biasa ini sudah jadi fenomena internasional yang tidak saja menyasar Indonesia.

Tito mengatakan, aksi teror yang terjadi di Indonesia mencuat karena perintah ISIS yang saat ini terdesak. Kondisi itu kemudian memintas seluruh sel-sel jaringannya untuk bergerak serentak.

“Rangkaian teror bom ini merupakan aksi yang diminta oleh ISIS yang saat ini terdesak, teror dilakukan serentak tak hanya Indonesia beberapa negara juga telah terjadi pemboman,” ungkap Tito dalam keterangan tertulilsnya, Jumat 25 Mei 2018.

Tito menjelaskan, motif di balik aksi teror bom ini diduga karena di tingkat internasional ISIS ditekan kekuatan baik dari Barat seperti Rusia dan negara lainnya. Sehingga, keadaan terpojok dan memerintahkan semua jaringan untuk melakukan serangan pada seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, katanya, ada dua macam kelompok terkait dengan ISIS yang menjadi ancaman. Pertama, kelompok sel-sel JAD dan JAT. Beberapa di antara mereka ada yang kembali berangkat ke Syria atau tertangkap oleh otoritas Jordani dan Turki atau sekitar Syria.

Menurutnya, ada sekitar 1.100 lebih yang pergi ke Suriah. Kemudian yang dideportasi ke Indonesia berjumlah 500 lebih. “Ini menjadi tantangan bersama karena mindset mereka adalah ideologi ISIS,” tandasnya.

(red)

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel kami. Untuk informasi update silakan berlangganan newslatter kami di bawah ini

No Responses

Comments are closed.